Obrolan AMORITA D dan Yanto Prawoto dari Layarkata-Network
sumber : Layarkata.com/ 2003
Cintaku di Kampus Biru yang sekarang sedang menayang di Trans TV adalah salah satu karya penulis cerita dan skenario perempuan ini. Proses kreatif, skenario bagus, kompromi dengan produser, termasuk tips untuk calon penulis skenario diungkapkan dalam tulisan ini.
Berikut ini obrolan santai tapi seru antara Yanto Prawoto yang mewakili LayarKata.com, dengan penulis bernama KTP Agni Amorita AMD ini.
Yanto Prawoto: Halo Mbak Rita, apa kabar? Tentu aja baik, ya... Kalau gak baik, gak mungkin kita ngobrol-ngobrol di sini, sekarang... Oke, kita mulai aja obrolan kita dengan pertanyaan dasar...
Sejak kapan anda terjun di dunia penulisan cerita dan skenario? Bisa diceritakan (panjang juga boleh), bagaimana proses anda masuk ke industri sinema Indonesia?
Amorita D.: Karena memang panjang, sebaiknya Mas Yanto sambil santai minum kopi sementara saya ndongeng ya?
Yanto Prawoto: Kopi mah, selalu siap he he...
Pembaca LayarKata.com juga disarankan untuk membaca artikel ini secara offline, soalnya pulsa mahal he he... Atau yang dari warnet, di-save aja ke disket, supaya bisa dibaca di rumah... 8-)
Jadi gimana dongengnya...?
Amorita D.: Saya merasa mulai menjadi penulis fiksi profesional itu sejak tahun 1987. Saat itu saya mendapat hadiah ketiga lomba penulisan novelet majalah Gadis dan memakai nama Amorita D untuk pertama kali.
Sejak saat itu saya berkonsisten memakai nama Amorita D untuk menulis fiksi dan memakai nama sesuai KTP untuk menulis nonfiksi. Ini antara lain karena setelah lulus kuliah saya kemudian bekerja sebagai wartawan pada sebuah media nasional.
Setelah merasa "bisa" menulis untuk media cetak, baik fiksi maupun fakta (sebagai wartawan), eksplorasi kepenulisan saya tertuju pada dunia broadcast. Maka bersama dua rekan sesama wartawan yang berlatar belakang penulisan fiksi yaitu Djoenaedy Siswo Pratikno dan FX Rudy Gunawan, saya mendirikan Tim Kemis Script Writers pada 1994. Maklum, kami bertiga suka nongkrong di TIM setiap Kemis malam, seusai deadline 8-).
Beberapa bulan kemudian PT Rana Artha Mulia nya Mbak Marissa Haque membeli skrip pertama kami yang berjudul Bonita dari Tutuala (1995) sebanyak sembilan episode. Dilihat dari judulnya, kisah ini memang ber-setting lokasi di Timor Timur. Sayang, kondisi politik membuat rencana pengambilan gambar serialized drama ini tertunda.
Tim Kemis pun ikutan bubar namun saya terus menulis skenario pada waktu luang saya dari rutinitas kerja kewartawanan, hingga hari ini.
Yanto Prawoto: Apa yang menarik dari profesi sebagai penulis cerita dan skenario?
Amorita D.: Profesi ini sangat menarik karena berawal dari kombinasi tiga hobi utama saya yaitu; menulis, membaca dan menonton film. Jadi kalau diibaratkan drama di televisi kita ya, dari "temen jadi demen" lah gitu, dari hobi jadi profesi.
Yanto Prawoto: Apa suka, dan apa dukanya?
Suka dan duka tentu datang silih berganti. Duka itu misalnya ketika tulisan kita dipermak habis oleh pihak lain diluar kendali kita, sehingga premise dan spirit cerita yang hendak kita sampaikan jadi terkorup, bahkan terselewengkan maknanya. Saya pernah menulis komedi yang bertemakan keadilan jender tapi hasil akhirnya malah penuh dengan bias jender yang malu-maluin untuk ditayangkan pada abad ini...!
Ada pun sukanya adalah kepuasan batin yang sukar ditandingi dengan Rupiah apabila tulisan itu menjelma menjadi sebuah tayangan yang memuaskan.
Yanto Prawoto: Maaf, nih... Kita mundur sedikit, supaya pembaca bisa sambil mengingat. Skenario apa saja yang pernah anda tulis?
Amorita D.: Bonita dari Tutuala (1995-96, serialized drama, PT Rana Artha Mulia Film)
Taubat (1997, series Ramadhan, RCTI)
Cermin (1997- series, indie)
Ikhlas (1998-series Ramadhan, RCTI)
Usia 20 (1999, series, SCTV)
Hypnosa (talk show- RCTI, co-writer pada desain program dan pilot episode, 2000)
Luv (co-writer, series. RCTI 2000-2002)
Cinta Berkalang Noda (serialized drama, RCTI, 2000-2001)
Sandal Untuk Hamdani (telesinema, 2002, belum tayang)
Kinanti, Pacarku Judes Sekali, Edelweiss, Cahaya (FTV, 2002-2003)
Cintaku di Kampus Biru (2002-2003, serialized drama, Trans TV)
Putri Keempat (co-writer, sitcom, RCTI, 2003)
Dan banyak lagi judul yang "missing in action", artinya sudah kelar ditulis tapi kadung dicuekin produsernya 8-).
Yanto Prawoto: Dari sekian banyak, skenario yang mana yang mengesankan atau paling memuaskan secara batin?
Pengalaman batin yang "berbeda" saya dapat kala melakukan riset untuk menulis skenario "Sandal Untuk Hamdani" yang berdasarkan kisah nyata Hamdani, aktivis buruh di Tangerang. Hamdani dipenjara karena dituduh mencuri sandal buatan pabriknya yang sudah afkir, bahkan dibolongi, dan selama ini dipakai bergantian oleh para buruh untuk mengambil air wudlu.
Dengan disutradarai Dedi Setiadi, telesinema "Sandal Bolong Untuk Hamdani" saya anggap sebuah cermin yang bening untuk menertawakan carut marutnya kondisi justisia kita. Rencananya telesinema itu hendak ditayangkan untuk menyambut hari buruh, namun begitulah wajah televisi kita... Meski telah selesai dibesut setahun lamanya, "Sendal Bolong Untuk Hamdani" belum juga "layak" disuguhkan di layar televisi Indonesia yang kini "semarak" dengan "kekerasan, mistik, obrolan seks, dan goyang panggul" itu...
Yanto Prawoto: He he... No comment deh untuk trend tayangan tv sekarang.
Oke, balik lagi ke pertanyaan (emang tukang nanya sih, ya...) Bagaimana proses kreatif anda dalam menghasilkan karya cerita dan skenario?
Amorita D.: Ritualnya itu ya nancepin aliran listrik buat nyalain komputer 8-).
Saya berharap bisa mengkondisikan diri menjadi penulis yang profesional sehingga bisa menafikan masalah nonteknis untuk bisa menulis. Lokasi kerja saya cukup fleksibel, bisa dimana saja, begitu juga dengan pilihan waktunya.
Yanto Prawoto: Apakah anda punya tempat atau waktu khusus atau bahkan punya ritual tertentu sebelum menulis skenario?
Ritual, kalau boleh disebut demikian, bagi saya adalah memfokuskan konsentrasi pada apa yang hendak saya sampaikan. Jangan lari dari premise dan tema cerita, dan tentu saja jangan sampai "menyeleweng" dari moral cerita yang baku dan logis. Itu sajalah pedoman saya sebelum menulis.
Kemudian bergerak ke soal teknis yaitu menyiapkan sinopsis. Setelah itu saya akan membedah sinopsis menjadi satu kerangka tulisan (sebagian penulis menyebutnya sebagai sceneplot, sebagian lagi menyebutnya treatment) yang harus ditaati sebagai rambu-rambu penulisan. Setelah itu skenario bisa langsung saya kerjakan. Satu-satunya "setan" yang suka mengganggu adalah rasa malas..:(
Kalau pun ada sesajen yang setia menemani saya menulis, biasanya berupa secangkir kopi Jawa yang sedap 8-).
Yanto Prawoto: Menurut anda, sebenarnya menulis cerita dan skenario itu susah atau gampang, sih? Susahnya dimana dan gampangnya dimana? Hal apa yang sangat perlu dilakukan oleh seseorang yang ingin menjadi penulis skenario profesional?
Amorita D.: Nah, ini teori relativitas kudu masuk Mas. Kalo negative thinking ya berasa susah atuh! Tapi kalo udah kadung cinta ya hajar bleh aja deh walau pun seribu gunung dan samudra telah menghadang, ya nggak?
First thing first-nya menjadi penulis skenario profesional itu... ya bertindak profesional. Mampukah kita berdisiplin untuk menulis dan bereksplorasi, menganalisis (dari tema cerita, karakter, permasalahan, hingga setting, baik setting lokasi maupun setting waktu) dengan "profesional" alias tidak "ngawur"?
Jika dijawab ya dengan Y kapital, Insya Allah, kita tak akan merasa sulit untuk "berproses" menjadi seorang penulis skenario yang profesional. Proses, suatu masa pematangan, itulah yang saya anggap salah satu poin penting karena menulis adalah juga suatu "craft" yang tak bisa begitu saja lahir dari jalan pintas.
Yanto Prawoto: (menghela napas pendek) Huh... Ngedengernya asyik banget, gampang... Tapi untuk nerapinnya butuh perjuangan panjang. Setidaknya buat saya he he... Oke lah, ini jadi pelajaran berharga buat saya 
Balik nanya lagi, nih... Skenario yang seperti apa sih, yang Mbak Rita anggap bagus?
Amorita D.: Ada banyak parameter untuk mendapatkan predikat bagus ini. Tapi bagi saya, bagus dengan B kapital itu saya temukan pada film Baran.
Filmnya Madjid Madjidi ini dahsyat luar biasa di mata saya. Oke, saya akan berusaha tidak membicarakan pencapaian sinematografinya Madjidi yang alamak indahnya itu dan cuma berkonsentrasi pada skenarionya, sesuai dengan pertanyaan Mas Yanto.
Tema cerita Baran sangat sederhana, tentang unconditional love dengan setting sosial eksodusnya para pengungsi Afghan di Iran. Bahwa dalam film itu dikisahkan penyamaran seorang wanita menjadi pria yang notabene plot klasik--antara lain terjadi pada Srikandi, Dewi Chondro Kirono, sampai Mulan--tapi pendalaman (konflik dan karakter)nya begitu orisinal dan kuat sekali.
Romantisme dalam black comedy, menurut saya adalah sesuatu yang sulit. Tapi Madjidi (sutradara sekaligus penulis skenarionya) melakukannya dengan sempurna. Ia bahkan sempat bermain-main, meledek kisah klasik Cinderella dengan adegan Latif (tokoh utama pria) memasangkan sepatu Baran (tokoh utama wanita) yang terlepas separuh. Ledekan itu menjadi indah karena hal tersebut menjadi cause terjadinya sentuhan Latif pada Baran (walau tidak skin-to-skin) yang tentunya ditunggu-tunggu penonton. Agar terasa keindahannya, kita harus mau membandingkan betapa plot "kepahlawanan" ini dalam banyak film lain biasanya "cuma" tampil lewat adegan sang jagoan yang mendadak muncul menyelamatkan sang leading lady ketika hendak diperkosa para durjana. Nah..!
Dengan sangat cerdas, Madjid Madjidi mempertontonkan bahwa kreativitas bisa menembus barrier budaya dan setting sosial. Contoh lain dari penembusan cerdas Madjidi ini adalah ketika ia "berhasil" menampilkan adegan Baran (seorang gadis) menyisir rambut tanpa melanggar norma yang berlaku di negaranya yang mengharamkan penampilan rambut wanita di depan publik.
Eksplorasi dalam skrip Baran ini begitu kuat, bahkan dari judulnya (Baran adalah bahasa Afghan untuk hujan) yang kemudian ditranslasikan dengan endingnya yang menampilkan turunnya hujan (air) sekaligus pertanda bergantinya musim (dari hujan salju sebelumnya), yang juga menjadi penguat metaforis adanya babak baru dari kisah cinta yang dirasakan kedua pemeran utama. Penguat seperti ini menjadi sangat signifikan lantaran sepanjang film ini Baran sama sekali tak mengucapkan sepatah kata pun pada Latif.
Skenario seperti inilah yang saya anggap buaguuus karena "ditulis dengan cinta". Artinya, tulisan yang lahir itu membawa spirit dari sang penulis, dan as a result, menularkan suatu perenungan. Hla kan itu gunanya seniman atawa pekerja kreatif itu, yaitu membantu kita semua "berproses" menjadi "berkebudayaan", kan? Dan membuat hidup ini jadi lebih bermakna, something like that lah...!
Yanto Prawoto: Wah, penjelasannya banyak banget dan detil... Tapi oke banget, saya setuju dengan penilaiannya...
Pertanyaan selanjutnya... Apakah skenario yang bagus selalu disukai produser?
Amorita D.: Tentu untuk berkompromi dengan pasar (ini poin yang disasar sang produser) diperlukan suatu usaha win-win solution yang implementatif karena produser akan mengambil sudut pandang ekonomik dan sang seniman, theoritically, akan mengambil sudut pandang idealistik. Perkawinan kedua sudut yang bertolak belakang ini bisa menghadirkan either keserasian atau kekalahan salah satu pihak.
Baran bisa menjadi contoh keserasian ini, ketika Madjidi dengan indahnya menunjukkan bagaimana perhitungan komposisi, angle, dan penguasaan cerita, bisa mengubah "batu dan kayu" (dari bangunan gedung setengah jadi yang menjadi setting lokasi) menjadi "kolam susu" yang puitik di atas layar. Cobalah lihat adegan ketika si Latif tercenung di antara api unggun dari dalam tong (yang dicat merah, begitu kontras dengan kekelaman di sekitarnya) dan kemudian dilanjutkan dengan long shot gedung setengah jadi itu dengan beberapa jendela di tingkapnya merapuh eh menyala lampunya... Suatu satir yang indah dan terkalkulasikan secara cermat, baik secara tekstual (dalam hal ini, gambar) maupun kontekstual (kisah).
Yanto Prawoto: Bagaimana cara kerja anda selama ini?
Amorita D.: Sejak tahun 2000 saya mengadaptasi novel menjadi suatu serial panjang untuk televisi. Kompromi dengan produser harus dilakukan sebelum melakukan eksplorasi membedah novel (yang hanya seratus-duaratusan halaman) menjadi skenario 26 episode atau lebih (per episode biasanya terdiri dari 35-45 halaman ) sehingga tidak terjadi, misalnya, klaim negatif dari penulis novel yang didrama-televisikan. Selama ini saya berusaha bersetia dengan plot dari novel-novel yang saya tulis skenarionya sebagai apresiasi sesama penulis pada seniornya 8-).
Yanto Prawoto: Apakah ide cerita selalu datang dari anda sebagai penulis, atau anda hanya mengerjakan skenario berdasarkan ide dari produser? Seberapa jauh anda berkompromi dengan produser?
Amorita D.: Mengenai kompromi dengan produser maupun pihak lain seperti sutradara, penata artistik, kostum, hingga penata musik, memang tak terhindarkan karena penulis skenario adalah suatu bagian dari kerja tim. Tentu kita harus menyiapkan argumen yang cukup kuat dalam bargaining process ini. Sekadar ilustrasi, ketika membuat Cintaku di Kampus Biru, saya menerjemahkan pencarian jatidiri Anton (Indra L Bruggman) ini berawal secara tekstual dan sedikit demi sedikit ia akan menemukannya secara kontekstual.
Nah, "jembatan" yang saya pakai untuk menerjemahkan pendekatan tekstual ini dengan menampilkan Che Guevara sebagai idola yang tak hanya disitir kata-katanya melainkan ditiru pula penampilannya oleh Anton. Dalam diskusi dengan banyak pihak di Prima Entertainment yang membesut serial ini saya harus siap menerima banyak masukan. Saat itu dikawatirkan bahwa Che yang "kiri" itu akan menjadi hambatan. Saya bersikukuh bahwa sejak Uni Soviet runtuh, komunisme yang menjadi mbahnya gerakan kiri tidak bisa dianggap sebagai ancaman.
Lalu muncul pertanyaan teknis, bahwa Che dianggap kurang populer dan ditawarkan diganti dengan seorang seniman kondang. Argumen ini saya tolak karena sebagai tokoh idola karakter idealis seperti Anton ini haruslah tokoh yang tidak komersial. Terakhir, sambil bercanda, salah seorang tim bertanya pada saya bagaimana kalau petugas properti tidak sanggup mencari posternya karena tidak kenal siapa itu Che Guevara.
Seketika itu juga saya menyanggupi untuk membeli sendiri poster Che untuk keperluan properti serial ini. Jadi kalau Anda menonton Cintaku di Kampus Biru (Trans TV, setiap Senin 21.00 WIB) dan melihat satu poster kertas dan satu bendera besar bergambar wajah Che Guevara terpasang di dinding kamar Anton, itu adalah hasil buruan saya mengubek-ubek pasar Blok M.
Yanto Prawoto: "Cintaku di Kampus Biru" bagus banget lho, saya suka... Ini salah satu serial tv yang bagus, menurut saya...
Trus, menurut anda, apakah pekerjaan sebagai penulis cerita dan skenario bisa dijadikan profesi yang dapat menghidupi penulisnya?
Amorita D.: Pekerjaan apapun bisa menghidupi seseorang asal dilakukan dengan baik dan konsisten. Proses keprofesionalitasan itu memang butuh waktu tapi itulah satu-satunya jalan terbaik untuk mencapainya. Bukankah no gain without pain?
Yanto Prawoto: He he, setuju banget!
Apa obsesi anda yang berhubungan dengan pekerjaan anda sebagai penulis cerita dan skenario? Ada rencana besar yang sedang anda lakukan?
Amorita D.: Menuntaskan sebuah cerita lama saya, The Flying Children, yang sudah begitu lama diangankan menjadi skenario. Kisahnya saya anggap indah dan romantik tapi begitu indah dan romantiknya sampai enggak tahu gimana nulisnya hehehe.
Yanto Prawoto: Oke, oke... Mudah-mudahan satu saat ketemu cara nulisinnya, ya... Sehingga obsesi ini bisa jadi kenyataan 8-)
Ada tips atau pesan khusus untuk para calon penulis cerita dan skenario yang ingin terjun menjadi penulis skenario profesional?
Amorita D.: Menulis skenario untuk media televisi sangatlah berbeda dengan menulis fiksi untuk media cetak. Ada kendala eksplorasi dan beberapa kepentingan pihak lain yang mau tak mau menjadi rambu-rambu yang bisa atau tidak bisa diterobos seorang penulis skenario. Jika seorang calon penulis skenario berasal dari latar belakang penulisan media cetak, syok kultur ini akan terasa mengganggu. Tapi, Pak Idrus kan bilang bahwa selalu ada jalan lain menuju Roma. Jadi tak perlu terkaget-kaget kalau mendapati halangan demi halangan di lapangan. Anggaplah itu sebagai tantangan dari kreativitas kita agar lebih kreatif menciptakan jalan dan jembatan lain untuk terus melangkah maju.
Yanto Prawoto: Oke, ini bakal jadi pelajaran bagus buat para penulis yang mau coba masuk ke dunia penulisan sinema...
Terakhir nih, pertanyaan wajib... Apa komentar anda tentang situs web LayarKata.com?
Amorita D.: Wah, ini situs makin colorful aja nih. Congrats ya Mas Yanto, situsnya makin lengkap dan mendetail pula bahasannya.
Pokoknya penulis skenario Indonesia masa depan harus lebih maju lagi karena sudah begitu banyak fasilitas yang disediakan, termasuk dengan keberadaan milis dan itus Layarkata nan progresif ini. Saya yakin dengan promosi yang kian gencar, pastilah Layarkata akan jadi writing community yang mumpuni di negeri ini. Semoga!
Yanto Prawoto: Oke Mbak Rita... Kayaknya sudah banyak yang saya tanya, banyak yang Mbak jawab dan tentu saja banyak juga yang sudah dibaca pengunjung situs ini.
Akhir kata, saya pribadi dan pengunjung situs LayarKata.com mengucapkan terima kasih banyak untuk ngobrol-ngobrolnya. Mudah-mudahan obrolan ini bisa menjadi inspirasi bagi kita untuk melakukan hal-hal yang belum, sedang dan akan kita lakukan untuk sinema Indonesia.
Terima kasih.
Amorita D.: Oke, sampai ketemu lagi, Mas Yanto. Dan terimakasih atas kesempatan mengobrolnya ini.