Amorita D; Up, Close & Personal

Category:Movies
Genre: Foreign
Saya akhirnya menonton Turtles Can Fly, Alhamdulillah banget euy!. Llihatlah foto-fotonya di album foto -My Photos-saya di halaman sebelum ini.

Film karya Bahman Ghobadi (sutradara, produser dan penulis skenario) ini diputer di JIFFEST 2005 silam, diputar di sesi gratisan. Waktu itu saya telat datang dan kehabisan tiket. Tapi waktu itu saya tak begitu menyesal, hla wong film jagoannya Jiffest kala itu, Le Grand Voyage, yang dipuja-puji media massa sampai aula Graha Bakti Budaya TIM penuh sesak oleh penonton, tak begitu membuat saya jatuh cinta. Maka itu ekspektasi saya pada Turtles Can Fly, sebuah produksi kerjasama Iran-Irak yang kemudian didistribusikan MGM untuk pasar internasional, ya tak terlalu tinggi, lah. Ternyata saya sungguh keliru, Turtles Can Fly itu DAHSYAT man! Saya bahkan menganggap Turtles Can Fly, yang menjadi wakil Iran di kancah Oscar 2004, satu langkah lebih menggetarkan ketimbang Life is Beautiful-nya Roberto Benigni (Film Asing Terbaik Oscar 1998) yang sama-sama mengusung tragicomedy manusia dalam peperangan.

Saya sudah sering memproklamirkan diri sebagai fans berat film Iran,meski pun, harus saya akui, human tragedy yang menjadi genre utama film Iran sering membuat saya terhantui dan merasa hancur lebur. Terlebih setelah menonton Osama, duh, perut saya mulas berhari-hari .

Turtles Can Fly yang dibesut Ghobadi, sineas Iran dari etnis Kurdi ( A Time for Drunken Horses-2000), ini tak kalah tragis, namun saya juga terbahak-bahak secara berselingan dengan airmata yang entah bagaimana menetes-netes tanpa sanggup saya cegah. Saya jatuh cinta setengah mati pada bocah-bocah konyol sekaligus heroik yang bertahan hidup di barak pengungsian suku Kurdi di perbatasan Iran-Turki, sesaat sebelum Amerika menyerang Irak. Apalagi setelah mengetahui bahwa sebagian besar ari bocah-bocah itu, ternyata, memang bukan aktor profesional, mereka adalah para pengungsi dan bocah piatu beneran.

Hati saya larut bersama remaja kencur Soran si Satelit , si tokoh utama yang pinter dan tengil. Satelit yang berkacamata minus itu berlagak bagai Godfather bagi anak-anak yatim di pengungsian. Sebagai pebisnis ulung, Satelit, yang mendapatkan julukan itu karena kemampuannya mencarikan sinyal televisi asing, menguasai negosiasi dengan para broker yang menjual ranjau darat hasil tangkapan bocah-bocah asuhannya. Bocah-bocah di bawah kendali Satelit banyak yang telah buntung dihajar ranjau dan karenanya mereka justru tak takut mati untuk berburu ranjau lebih banyak lagi, ranjau tersebut kemudian dijual ke PBB oleh broker dengan harga seratus kali lipat upah yang diterima para bocah.

Satelit yang keamerika-amerikaan dan sok cas-cis-cus berbahasa Inggris di depan semua orang ternyata paham bahasa Inggris dalam transaksi pasar gelap belaka, sehingga ketika diminta tetua desa menerjemahkan berita persiapan Bush menyerang Irak, ia malah menyampaikan ramalan cuaca. Tentu saja para sesepuh itu protes namun dengan sok berwibawa Satelit berkata bahwa ramalan tersebut pastilah sandi-sandi yang hanya diketahui orang tertentu. Satelit yang digdaya itu baru tak berdaya ketika muncul pengungsi baru yang cantik, Agrin, dan kakaknya, Hengov, yang tak bertangan lantaran buntung oleh ranjau.

Saya juga amat jatuh hati pada si kecil Shirkooh yang menggemaskan, ajudan setia Satelit yang supercengeng. Dan pada mahakedukaan di wajah cantik Agrin yang tak pernah tersenyum.Serta ketidak-berdosaan batita Riga yang buta dan hanya ingin melepaskan kura-kuranya, agar terbang ke dalam kolam. Juga pada Pashow, tangan kanan Satelit, yang menantang perang Mister Tentara di pos jaga nun jauh dari tempatnya berdiri sambil mulutnya menirukan suara senapan mitraliur dengan memakai kaki kanannya yang lumpuh layuh sebagai senapan imajiner mengarah ke sasaran tembak.Pashow melakukannya dengan ceria untuk menenangkan tangis si kecil Riga. Saya sungguh tak tahu bagaimana saya tertawa keras pada kekonyolan Pashow itu dan menangis dalam waktu bersamaan. Paradoks demi paradoks yang dahsyat memang tak henti bermunculan dalam film ini.

Klimaks dan antiklimaks film ini hadir dengan plot yang tragis, walau pun tetap saja bumbu menggelikan itu ditebarkan.Satelit yang ceria dan, sebagai pengungsi Kurdi amat berharap kehadiran Amerika untuk membebaskan diri dari kuasa Saddam Hussein, tiba-tiba menyadari bahwa impian para pengungsi untuk kembali ke dunia beradab itu adalah ketakutan terbesar Agrin yang membuatnya tak pernah tersenyum. Sepasang sepatu Agrin membuat Satelit memalingkan muka dari tentara Amerika yang berparade masuk kota, yang begitu dibanggakannya. Perang itu, Satelit kini memahaminya, adalah luka.

Jakarta, Hari Chairil Anwar, April 28, 2006
amorita d
-------------
Turtles Can Fly
(lihat foto-fotonya di My Photos)
Judul Asli : Lakposhtha hâm parvaz mikonand
Produksi : 2004

Skenario & Sutradara : Bahman Ghobadi

Pemeran Utama :
Soran Ebrahim sebagai Satellite
Avaz Latif - Agrin
Saddam Hossein Feysal - Pashow
Hiresh Feysal Rahman - Hengov
Abdol Rahman Karim - Riga
Ajil Zibari - Shirkooh

Penghargaan :
Pemenang Glass Bear Award Festival Film Berlin 2005.
Pemenang Audience Award Festival Film Rotterdam 2005
Pemenang Film Terbaik San Sebastian Internasional Film Fertival 2004


darji wrote on Oct 22, '06
Mungkin benar. Cinta dan Kepedihan, serupa dua sayap yang tak bisa dipisahkan. Menyatu dalam satu tubuh; Drama Kehidupan.
hiks hiks.
aku gak bisa nontooon. makasih banget atas ulasan turtles can fly-nya.
ditaku wrote on Nov 14, '06
ada vcd atau dvdnya gak yah...
amorita2005 wrote on Nov 16, '06, edited on Nov 16, '06
ada donggg, tapi nyarinya yang susah..:-)
Aku dapet DVD-nya di suatu lapak Ambasador mal
Kata kuncinya "film Iran" atau "film festival" kalo mo nanya ke penjualnya, soale para pekerja di lapak-lapak dvd itu suka under-estimate sama film non holiwut.:(
cungkring69 wrote on Oct 22, '07
damn..
gw kira cm gw yg punya selera film yg agak "aneh"....
my suggestion, also watch millions, blue bird, and empire of the sun...
ta2surya wrote on Dec 14, '07
Hi..salam kenal... Saya baru nemu ini..
Saya juga tertawa dan nangis nonton ini, bahkan sampe sekarang masih sedih dan miris kl inget gmn usaha Agrin untuk mengingkari keberadaan anaknya..
Perang itu jahat!
Tata
amorita2005 wrote on Dec 16, '07, edited on Dec 16, '07
salam kenal kembali rekan Tata,
Turtle Can Fly itu emang dahsyat ya!
BTW sekarang udah jiffest week lagi loh, hari terakhir nih..:-)
ta2surya wrote on Dec 16, '07
Iya Ka... Dahsyat!
Add a Comment
How would you rate this movie? (optional)
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help
Template design Copyright © 2005 Jeff Miller