|
 Zidane Apa Klinsman?
Seorang cewek cakep, pemegang master administrasi bisnis dari manca yang akan berulang tahun ke 29 dan single berkata di sebuah cafe nonton bareng piala dunia yang baru lewat, "Bukan main bolanya yang penting, tapi pemainnya!" Teman-teman si cewek nyengir, setengah membenarkan, setengah malu-malu kedoknya dibongkar. Seorang cewek lain yang ternyata penggemar bola sejati langsung protes. "Payah deh loe pada, dasar mental cheerleader!"
Menyaksikan urun rembuk cewek-cewek di gempita piala dunia ternyata tak kalah seru ketimbang analisis para komentator dadakan di televisi. Jika beberapa waktu sebelumnya cewek-cewek tak dipercaya punya sense of nonton bola, sekarang ini kehadiran para cewek tak terhindarkan lagi signifikansinya. Baik yang sekadar menemani pacar atau suami, iseng saja ikutan ngumpul seru bareng temen-temen dan tetangga, sampai cewek-cewek gibol beneran yang dengan jitu bisa menyebut kapan Cristiano Ronaldo diving dan kapan ia memang dijegal bek lawan.
Jangan lupa pula bahwa kaum pria pun berandil besar mematahkan stereotipe mereka sendiri tentang hubungan kuat antara gosip dan perempuan, karena media masa sport Inggris yang secara tradisional dikangkangi para pria sebagai decision makernya adalah yang paling brutal bergosip tentang istri-istri tim Inggris dengan istilah the Wags (wife and girlfriends). Sehingga kabar Victoria Beckham nyarter pesawat--karena ribet bolak-balik ke London untuk nyalon rambutnya yang konon rada rontok pada musim World Cup kali ini--hingga artikel sekian butik di Baden-baden yang ludes diborong para Wags itu muncul dalam porsi sama besar dengan pembahasan kartu-merahnya Wayne Rooney.
Balik ke cewek-cewek penonton Piala Dunia 06, saat ini konon banyak cewek gibol yang lagi sibuk mikir ganti idola. Nama-nama baru yang lebih tinggi, lebih cepat, lebih kuat dan lebih cakep seperti Lionel Messi muncul deras menggantikan idola yang sudah ketinggalan jaman seperti Del Piero atawa si anak hilang Pippo Inzagi. Sedangkan pertarungan pengidolaan di tingkat "para legenda" juga berlangsung seru. Zizou yang menanduk Matarazi, yang belum jelas benar dikarenakan provokasi sekejam apakah itu, telah membuat keheroan kapten perancis itu turun pangkat.
Legenda baru yang mencuat kuat adalah si norak yang keren Juergen Klinsmann.Pelatih Jerman yang rada bergaya new-age itu--menyuruh anak asuhnya latihan memanah segala buat latihan konsentrasi--dianggap norak karena tega jejingkrakan kayak anak TK dan nyiumin strikernya yang berhasil mencetak gol seperti pacarnya sendiri. Singkatnya, Klinsi nggak elegan, beda banget sama Zizou yang begitu low profile dan, ahem, anggun.
Masalahnya Zizou ternyata bisa menjadi api yang sulutannya buat sementara orang sangat mengerikan, tiba-tiba aja pensiunan bintang Real Madrid itu berubah jadi matador dan menanduk dada lawan sampai harus diusir dari lapangan! Buat sebagian cewek, tandukan Zizou itu gagah perkasa karena ada kabar Mattarazi menghina keluarga Zidane. Maka, Zidane yang pemberani itu "tega" mempertaruhkan segalanya--termasuk legenda nama besarnya-untuk membela kehormatan keluarga tercinta. Tapi buat sebagian besar cewek, dan nama besar sportivitas, ledakan api Zizou itu terlalu berat untuk ditanggung. Itu sebabnya Klinsi yang bagaikan sebuah buku yang terbuka itu jadi menarik, karena kejujuran emosinya lebih mudah dibaca. Ah, dasar cewek-cewek! Hla kalau begitu ghalibnya, apa nggak jadi sama-sama mudah dibaca tuh namanya, heh heh heh..!

 | Thanks Say. BTW, tulisan itu kayaknya kudu direvisi, atawa ditambahi, deh! Soale menurut Canal Plus, Bang Jidan udah minta maaf tapi nehi nehi menyesali lantaran si Mad Radji kebangetan, menghina ibu dan sodara perempuan Bang Jidan dengan amat tak senonoh. So, jadinya Bang Jidan kembali jadi idola cewek-cewek, dan terutama ibu-ibu hehehe! Hla gimana, pan Bang Jidan udah mempraktekkan bait lagu Indonesia Raya dengan amat jitu "Jadi pandu ibuku!". Dia gak nyesel kehilangan semua ketenaran demi sang bundo. Dahsat kannnn..?
|
|