Amorita D; Up, Close & Personal

ReviewReviewReviewReviewMenguak Cadar The Painted VeilAug 4, '07 4:25 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Drama
Adegan dahsyat dalam film "The Painted Veil" (2006, sutradara John Curran) itu ternyata sederhana; seorang Kepala Biarawati, Mother Superior yang sepuh, tersenyum bijak, atau mungkin justru senyum pahit, lalu berkata kepada wanita muda bernama Kitty Fane (Naomi Watts), “When love and duty are one, grace is within you.” Satu kalimat itulah yang membuat Kitty Fane tertelanjangi. Ia sesungguhnya memang tidak se-gracious sebagaimana yang selama ini ia tampilkan, istri seorang ilmuwan yang terhormat, yang “dutifully” rela meninggalkan kehidupan mapan keluarganya yang kelas menengah atas di London jauh-jauh ke Beijing dan kemudian ke suatu desa nun jauh di pedalaman, dimana sang suami mengabdikan diri melawan kolera yang tengah menjadi epidemi.

Kalimat itu juga menembak motivasi suami Kitty, Walter Fane (Edward Norton) yang ternyata toh tak seidelis sangkaan banyak orang karena kepergiannya ke pelosok yang diwabahi kolera itu sejatinya lantaran suatu alasan yang sangat personal. Dengarlah dialog yang membuat klepek-klepek berikut ini.

Kitty Fane: For God saked, Walter, will you stop punishing me? Do you absolutely despise me?
Walter Fane: No I despise myself.
Kitty Fane: Why?
Walter Fane: For allowing myself to love you once!

Begitulah, suatu “cinta yang salah” menjadikan drama yang indah ini sangat kuat karena meletakkan cinta itu sendiri dalam bentuknya yang paling tidak berdaya. Pemilihan setting waktu yang pada tahun 1930-an, makin membuat ketidakberdayaan cinta itu mengharu-biru karena harus diejawantahkan dalam bentuk-bentuknya yang paling penuh perjuangan, tanpa bisa sama sekali mengandalkan bantuan jalan pintas semacam SMS, email, telepon dan kecanggihan teknologi kekinian.

Cinta yang keliru itu kemudian berjalan jauh, menuju ke kebenaran yang ternyata memang ada di dalam kekeliruan itu sendiri. Rumit? Tidak kok jika pakai istilah dari kampung saya yang bunyinya, “Witing tresna jalaran ora ana sing liya” itu. Jadi, bagaimana mungkin Kitty tak jatuh cinta pada lelaki sebaik Walter? Walau... pun ia tak pernah merasakan hasrat sensualitas pada lelaki itu? Maka hasrat itu pun muncul dalam proses yang manusiawi, ketika kekaguman demi kekaguman beroleh sokongan dari spontanitas Walter yang sebelumnya beku. Di pedalaman desa itu, Walter yang semula kaku tanpa emosi perlahan membara dan hidup, sesuatu yang selama ini dicari oleh Kitty hingga nyaris putus asa. Ideologi yang “usang” seperti “pemaksaan” Kitty untuk akhirnya harus mencintai lelaki yang sebenarnya tidak ia cintai itu dijelaskan antara lain lewat dialog Kitty dan Walter tentang motivasi para biarawati di pedalaman Cina tersebut. Kitty sangat mengagumi dedikasi para biarawati tersebut sementara Walter mengkritisi motivasi yang melatarbelakanginya. Jika kalimat Kitty tentang para biarawati itu diganti subyeknya dengan “Walter Fane” maka kita akan memahami bahwa Kitty Lama telah berubah menjadi Kitty yang Baru, bahwa “cinta yang keliru” itu telah menemukan arahnya untuk pulang. Ia pun menjadi puitik, seindah baris pertama soneta karya sastrawan Inggris Percy Shelley (1792-1822) yang dicukil untuk menjadi judul kisah cinta ini oleh W Somerset Maugham, “Jangan kuakkan cadar bergambar itu, yang oleh mereka disebut sebagai kehidupan...”

Saya menonton film ini bukan termotivasi niatan untuk "sok nyastra" lantaran "The Painted Veil" merupakan karya adaptasi sastrawan Inggris terkemuka William Somerset Maugham (1874-1965) --yang gaya sinikalnya memang sesuai dengan selera saya (pada “Being Julia”, misalnya)--, melainkan karena disini ada Edward Norton. Sejak menonton "Primal Fear" (1996) dimana Norton menjadi remaja cupu dan gagap yang menjadi lawan main Richard Gere, saya meletakkan namanya satu baris bersama DeNiro dan Dafoe, those who’re born to simply act, atawa para empu dari permainan seni peran. Mengetahui Norton tak hanya berakting melainkan juga memproduseri film ini adalah bonus menyenangkan yang membuat saya tergerak untuk menuliskan review ini.

"The Painted Veil" mengambil lokasi pengambilan gambar di Beijing dan pedalaman China yang menggaransi tamasya mata yang memukau. Film peraih piala Golden Globe 2007 untuk scoring musik ini menggenapi suguhan superlatif yang luas untuk ditawarkan dari keindahan sinematografi, akting, hingga musik dan tata artistik. Satu hal yang menjadi kelemahan--namun pada saat bersamaan adalah kekuatan--"The Painted Veil" memang adalah alur ceritanya. Tema cinta segitiga yang usang itu disini menjadi segar bugar melalui pendekatan “reward and punishment” yang semestinya juga sederhana dan jamak namun ternyata menjadi amat mengagetkan pada endingnya.

Seorang pengamat sinema yang menonton film ini mengomel mengomentari endingnya yang menurut dia adalah suatu kekeliruan. Tapi apa sih yang bisa kita harapkan dari “cinta yang keliru” itu?. Apalagi jika kekeliruan itu adalah sesuatu yang penuh dengan “love and duty” yang tulus? Ia tetap akan menjadi “gracious”, bukan?

Jakarta, July 31, 2007
amd

The Painted Veil (2006)
Sutradara : John Curran
Skenario : Ron Nyswaner
Cast : Edward Norton, Naomi Watts, Liev Schreiber, Toby Jones,Diana Rigg
Music : Alexandre Desplat
DoP : Stuart Dryburgh
Ini adalah remake dari film berjudul serupa thn 1934 dengan Greta Garbo dan Herbert Marshall sebagai Katrin dan Walter Fane.



ratihkumala wrote on May 19
ReviewReviewReviewReview
aku suka film ini
amorita2005 wrote on Jun 1
Hello Ratih, thanks for visiting my blog. Iya, swetuju bgt, itu emang pilem yg dahsattt..:))
Add a Comment
How would you rate this movie? (optional)
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help
Template design Copyright © 2005 Jeff Miller