Amorita D; Up, Close & Personal

ReviewReviewReviewReviewAtonementJan 12, '08 1:01 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Drama
Film yang sedang naik daun ini, Atonement, memang unik. Yang pertama mencuri perhatian saya adalah music scoringnya yang keren, ilustrasi musik dengan menggunakan ketikan mesin tik jadul, menjadi temuan yang orisinal dan brilian bagi kuping saya yang rada kurang gaul ini (maklum, kuping saya belakangan ini dikepung musik jiplakan yang didaku orisinal oleh si Dani Ahmad itu...payah deh!). Sutradara muda Joe Wright (ini film keduanya) dengan pintar memvisualkan novel laris karya Ian MacEwan melalui tangan dingin penulis skrip senior Christopher Hampton (berjaya melalui Mary Reilly dan Imagining Argentina)

Temuan menarik saya lainnya dari film yang masuk nominasi terbaik Golden Globe 2008 ini adalah cara tutur yang memakai dua perspektif dari dua sudut pandang oleh dua orang karakter, yang mengakibatkan sebuah adegan memiliki dua makna yang sangat berbeda pula. Ini pola yang sebenarnya sederhana dan kerap ditampilkan dalam serial detektif di televisi, bahkan series anyar legal thriller yang dibintangi Kerr Smith berjudul Justice menampilkan pola ini secara tetap pada awal dan ending setiap episodenya. Namun pendekatan yang ditampilkan Atonement sangat berbeda karena hampir semua plot yang disajikan ternyata ambigu, memiliki dua sisi yang sulit ditebak mana yang memuat versi ”kebenaran”. Kita dipaksa menonton hingga akhir film untuk mengetahui mana saja plot yang semata khayalan Brioni Tallis, sang pemeran utama, dan adegan mana yang sesungguhnya ia alami.

Atonement menggenapi prasangka buruk saya bahwa semua kisah paling romantis di muka bumi ini (ternyata) adalah semata kisah cinta yang getir bin menyedihkan..hahaha... Memang Atonement belum mengalahkan (bagi saya loh) romantika The English Patient atau Legends of the Falls, namun film ini jelas indah banget. Storyline yang begitu rapi dan penuh kejut jebakan, parade panjang gambar-gambar puitik, dan lovescene yang keren. Saya menghindari kata ”panas” karena lovescene antara Cecilia (Keira Knightly) dan Robbie Turner (James McAvoy) ini memang sangat well orchestrated, sebuah love scene yang memang oh so hot tapi kita bahkan tak menyadari that they still had their clothes on! Angkat topi pula untuk longdress hijau Keira Knightly yang anggun, bagai sutera bergerak menjadi debur ombak cinta, sangat kontras dengan buku-buku tua dalam sampul warna suram yang menjadi latar belakangnya, membuat kesatuan lovescene tersebut lebih dari sekadar erotika. Yang tak kalah kuat ditampilkan adalah characters building dalam film ini yang sangat berwibawa. Kita nyaris tak canggung mengenali Briony baik kala ia masih ABG 13 tahun (diperankan Saoirse Ronan) , menjadi gadis pemurung 18 tahun (Romola Garai yang cantik memainkannya), maupun pada saat diperankan Vannesa Redgrave sebagai seorang nenek yang tabah dalam kegetiran. Tata rambut, aksesoris serba besar dan wajah tanpa senyum yang dingin itu hadir dengan intensitas yang terjaga, mengutuhkan film ini sebagai sebuah satir yang indah, satu film getir yang sangat cantik !

Additional; Storyline

(tambahan di bawah ini sangat Spoiler bin spoiler banget, teman-temin terutama yang belum nonton sebaiknya berhenti membaca sampai disini aja ya. Storyline di bawah ini ditulis mostly atas pesanan Jeng Tata en the genk yang muanis itu.., enjoy, Girls!)

Atonement diawali pada tahun 1940-an, mengisahkan remaja kaya calon penulis (drama) yang penuh imajinasi bernama Briony Tallis. Briony yang baru 13 tahun itu menghabiskan musim panas bersama sepupunya, Lola, dan dua adik lelaki Lola yang tak bisa diam. Satu-satunya hiburan pada musim panas yang membosankannya itu adalah Robbie, anak salah seorang pelayan di rumah mewah keluarga Tallis. Robbie tak hanya tampan, ia juga cerdas dan, berkat bantuan dana dari orangtua Brionne, tengah mempersiapkan masa depan sebagai seorang calon dokter. Namun Robbie tak tertarik pada si kecil Briony melainkan, kakak perempuannya, Cecilia Tallis. Robbie jatuh cinta pada Cecilia namun status sosialnya yang berkasta lebih rendah, memundurkan hasrat Robbie, ia hanya menyalurkan imajinasi liarnya pada Cecilia dalam kertas. Suatu hari, tanpa sengaja, Robbie salah mengirim surat pada Cecilia. Briony yang diminta Robbie mengantar surat pada Cecilia mengintip baca dan terguncang. Pada Lola, sepupunya yang baru 15 tahun, Briony menumpahkan rasa getirnya, ternyata Robbie yang iapuja hanyalah seorang ”sex maniac”.

Kekecewaan Briony pada sosok sempurna Robbie makin memuncak ketika tanpa sengaja ia memergoki percumbuan Cecilia dan Robbie di perpustkaan. Alih-alih memurkai surat lancang Robbie rupanya Cecilia justru takluk di pelukan lelaki itu. Di puncak kemarahan Briony itulah malapetaka terjadi. Ketika dua adik lelaki Lola menghilang dan seluruh isi rumah mewah serta para tamu (antara lain Robbie dan Paul Marshall) mencari bocah-bocah yang menghilang itu tanpa sengaja Briony menemukan Lola bersama seorang lelaki di semak-semak.

Briony menjerit kaget dan menjatuhkan senternya, si lelaki terkejut dan lari dalam kegelapan. Lola hanya berkata, ”I am sorry” ketika Briony menghampiri, memegang tangannya. ”It’s him, isn’t it?” tanya Briony penuh kemarahan. ”I know it was him," lanjut Briony, "Robbie!”. Lola tergugu, ia membisu seribu bahasa dan menangis. Usia Lola 15 tahun, siapa pun yang bercumbu dengan Lola dapat dikategorikan memperkosa anak di bawah umur, meskipun, katakanlah, pria itu adalah kekasih Lola.

Kesaksian Briony yang amat meyakinkan membawa Robbie ke penjara. Pupus sudah impian besarnya menjadi dokter dan menjauhi perang (para dokter pada masa perang tersebut biasanya tidak akan dibawa ke garis depan melainkan di rumah-rumah sakit yang lebih aman) dan melabuhkan cintanya pada Cecilia. Briony muda tak paham, amarah patah hatinya telah menghancurkan tiga masa depan, dirinya dan dua orang yang amat disayanginya. Dari kenyataan inilah ungkapan dalam judul film mengambil celah untuk masuk.

Kekecewaan dan rasa bersalah membuat Briony yang cemerlang mengabaikan kesempatan kuliah dan melarikan diri ke kancah perang dengan menjadi perawat. Cecilia lebih dahulu memilih meninggalkan keluarga Tallis dan menjadi sukarelawan, yang memungkinkannya bertemu kembali dengan Robbie yang selepas masa penjara harus turun ke medan perang. Di sebuah kantin yang penuh serdadu dadakan, Robbie dan Cecilia kembali bertemu. Cecilia selalu mengatakan hal yang sama pada Robbie, ”Come back to me,” dan Robbie selalu menjawab, ”I shall return”. Namun usai pertemuan itu mereka kembali berpisah, kali ini di tepi jalan ketika Robbie harus kembali bertempur dan Cecilia ke kota dengan trem. Di tangan Robbie kini hanya tertinggal potret rumah pantai sederhana, rumah masa depan yang diidamkan Cecilia, ia berjanji akan disana untuk menunggu Robbie dan membangun impian mereka yang tercerabut dengan paksa. Postcard itu kelak akan menjadi saksi hari-hari terakhir Robbie, di barak, diantara reruntuhan, dalam kesakitan. Sedangkan sebuah bom meledak di kolong bunker tempat Cecilia berlindung. Cinta itu ikut terkubur, namun rasa bersalah Briony tetap hidup.

Briony menyaksikan Lola menikah dengan pria yang pernah disaksikannya di semak-semak. Pria itu bukan Robbie, ketakutan akan usia Lola yang kala itu di bawah umur dan konsekuensi hukumnya terhadap percumbuan itu telah membungkam mulut Lola dan pria itu, Paul Marshall, si kaya yang sangat berkepentingan menjaga nama dan martabat keluarga. Yang tersisa hanyalah penyesalan Briony yang kian mendalam, ia lantas menciptakan satu-satunya atonement, semacam kompensasi dari rasa bersalahnya pada Cecilia dan Robbie.

Maka Jeng Tata, film ini sesungguhnya berhenti pada perkawinan Lola dan Paul. Karena adegan berikutnya adalah adegan yang diciptakan Briony dalam novelnya, sebagai satu-satunya cara yang mampu ia lakukan untuk menciptakan kebahagiaan bagi Cecilia dan Robbie, yang sebenarnya telah sama-sama tiada... Getir banget ya?


20 CommentsChronological   Reverse   Threaded
ta2surya wrote on Jan 13
Duh...jadi malu ni namaku disebut di sini... Kan jd ketauan Ka ku agak2 ga mudheng pas nontonnya... Hihihi...
Thanks a lot ya Kaaaa.... Atonement yg td nya samar2 telah menjadi terang di memoriku... Ku mau nonton lagi biar resep. >_<
ta2surya wrote on Jan 13
Memang Atonement belum mengalahkan (bagi saya loh) romantika The English Patient atau Legends of the Falls
Kyaaaaa...aku juga suka English Patient! Masih sedih dan miris kl inget...
Kl Legend of Falls itu yg mana ya Ka? *dahi berkerut2*
ta2surya wrote on Jan 13
sebuah satir yang indah, satu film getir yang sangat cantik !
Selama ini ku kesulitan menemukan susunan kata yg merepresentasi film ini. Akhirnya Ka Rita berhasil meramunya... Aku senang! Ttg plot yg ambigu juga... Ka Rita memang te o pe dah...

Owya kutambahin ya Ka... Menurutku amanat dr film ini ada 2: 1) jangan memamndang sesuatu dr satu sudut pandang; 2) jangan sakiti hati seorang wanita hohoho... (si Brioni sebenernya cinta sama Robbie kan ya? Cuma bertepukkan sebelah tangan... Makanya dia tega memfitnah nya...)
bita2005 wrote on Jan 13
Dalem ya ... begitulah kalau pakar film menulis... Kapan nih nonton bareng...
amorita2005 wrote on Jan 14
Hahaha...Legends of the Fall itu pilem 94, Say, waktu Brad Pitt masih lucu eh lugu seperti saya....:-)
amorita2005 wrote on Jan 14
Hehehe Mbak Sima iya nih kita mo nonton gak jadi mulu yah...Ada pilem baru loh mbak, Chants of Lotus itu, Rabu ini udah preview di Blitz. Ntar yah kita kontak-kontakan, semoga jauh dari musim banjir aja deh...hehehe
ta2surya wrote on Jan 14
Ntar yah kita kontak-kontakan, semoga jauh dari musim banjir aja deh...
Aku ikut dunk... Hihihi... Melihat kondisi cuaca akhir2 ini si sepertinya banjir jauh Ka... Semangat!
amorita2005 wrote on Jan 16
Eh Atonement menang tuh di Golden Globes, film drama terbaik 2008 dan music scoringnya dapet juga...dahsyat lah
amorita2005 wrote on Jan 16
Aku ikut dunk... Hihihi... Melihat kondisi cuaca akhir2 ini si sepertinya banjir jauh Ka... Semangat!
Haihai, Adinda manise, hihi, sori banget tadi aku udah nonton Chants of Lotus (Perempuan Punya Cerita) krn dikasih temen yg dapet undangan preview...aku maju aja hla wong gratisan hehehe
ta2surya wrote on Jan 16
Eh Atonement menang tuh di Golden Globes, film drama terbaik 2008 dan music scoringnya dapet juga...dahsyat lah
Waaaaa.... Muantabb!
Aku ikut bangga karena telah menontonnya... Hehehe...
ta2surya wrote on Jan 16
aku maju aja hla wong gratisan hehehe
Ya ampyun...Fans of Gretongan juga to Ka? Hohoho...
Bagaimanakah Chants of Lotusnya? Bintang skala 1-5, dia dpt brp Ka?
amorita2005 wrote on Jan 17
Bagaimanakah Chants of Lotusnya? Bintang skala 1-5, dia dpt brp Ka?
Bintang tujuh deh Say, kita kan kudu dukung pilem nasional hehehehehe
ta2surya wrote on Jan 17
Yaaaa...pake 'deh'... Ketauan ga ikhlasnya tu... Hehehehe... Tar kl ku nonton, habis itu ku cocokin daya tangkap ya Ka? =)
amorita2005 wrote on Jan 19
Yaaaa...pake 'deh'... Ketauan ga ikhlasnya tu... Hehehehe...
Hehehe si Neng Geulis bisa aje, BTW saya tulus loh waktu kmarin itu nyempetin nyelametin Lasja, salah satu sutradaranya pilem itu. Kebetulan saya emang paling suka episode yang dibuat Lasja (Perempuan Jakarta, dibintangi Susan Bachtiar). Secara keseluruhan sih film ini kudu didukung karena menyuarakan kaum terpinggir dan problem-problem perempuan. Bahwa ada kesan kayaknya dibikin dengan buru-buru, mungkin karena ngejar jadualnya Jiffest tuh hehehe
ta2surya wrote on Jan 24
Legends of the Fall itu pilem 94, Say, waktu Brad Pitt masih lucu eh lugu seperti saya....:-)
Kaaaaa.... Ku udah nonton Legend of The Fall! Daleeee....mmm! Sampe aku mimpi sedih.. Hiks...
Uhmmm... Jadi si Tristan ninggalin anak2nya ya Ka? *tetep aja ada bagian yg ku agak2 ga mudheng... hehehe...*
amorita2005 wrote on Jan 28
Kaaaaa.... Ku udah nonton Legend of The Fall! Daleeee....mmm! Sampe aku mimpi sedih.. Hiks...
Uhmmm... Jadi si Tristan ninggalin anak2nya ya Ka? *tetep aja ada bagian yg ku agak2 ga mudheng... hehehe...*
Keren kannnn...?
Hahaha...jadi inget masa lalu...oooops!
ta2surya wrote on Jan 28
Hayooooo... =)
lsusianty wrote on Feb 1
bagus banget! gue suka film ini! baca bukunya ga?
amorita2005 wrote on Feb 6
Hai Len, pakabar...:-), belum, aku sekarang males banget baca ..hehe langsung timpe ke pilemnye aje :)
mamajasmine wrote on Apr 6
ReviewReviewReviewReview
sedih dan aku sungguh sebal sama si briony............haruskah menunggu hingga ia berusia 18 tahun untuk menyadari bahwa tindakannya yang hanya berdasarkan emosi dan imajinasi itu telah menghancurkan masa depan dirinya dan masa depan Cecilia-Robbie??????????.......
Add a Comment
How would you rate this movie? (optional)
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help
Template design Copyright © 2005 Jeff Miller